Sejarah RSUAD


________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
PERJALANAN RSU’AISYIYAH DIPONEGORO
PONOROGO
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

I.       Rumah Bersalin ’Aisyiyah  (Tahun 1962 – 1992)

 Rumah Bersalin ’Aisyiyah Jalan Diponegoro Ponorogo didirikan pada tanggal 16 Januari 1962, yang diprakarsai oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang selanjutnya menjadi Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) yang diketuai Almarhum Bapak A. Moein Siroj. Dalam pengelolaannya dibantu oleh Pimpinan Cabang Aisyiyah Ponorogo yang diwakili Ibu Mardioetomo dengan nama Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah.

Motivasi didirikannya Rumah Bersalin tiada lain atas dasar ikhlas untuk mewujudkan masyarakat utama, adil, makmur yang diridloi Alloh SWT. Sebagai sarana dakwah melaksanakan tujuan dan cita-cita Muhammadiyah yang tecantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah

Pada saat didirikannya Rumah Bersalin tersebut belum ada konsep rencana pembangunan fisik type/model Rumah Bersalin akhir abad 20, karena pada awalnya hanya sebuah rumah kontrakan dalam jangka waktu 3 tahun, dimulai tahun 1962 yang terletak di jalan Diponegoro 23 Ponorogo atau sebelah kantor PUK Ponorogo, dengan izin nomor : UM 210/19/19/Drh, yang dikeluarkan tanggal 16 Januari 1962.

Perlengkapan dan pembiayaan Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah sehingga dapat perizinan tersebut diperoleh dari keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Perlengkapan mebeler diperoleh dari pinjaman para anggota dan sebagian kreditan dari toko mebel Aling.

Perjuangan berat amat dirasakan untuk mengurus Rumah Bersalin ini karena kurang perhatian dari masyarakat umum dan para anggota khususnya. Sebab utamanya adalah letak Rumah Bersalin terlalu jauh dari rumah-rumah anggota. Karena sedikitnya pasien yang dirawat, apalagi pada waktu itu faktor sosial sangat diutamakan sehingga banyak pasien yang dibebaskan dari biaya, maka tiap akhir bulan mengalami divisit, sehingga pengurus mencari bantuan dan pinjaman kepada anggota, yang dirasa mampu untuk menutup pembiayaan yang harus dikeluarkan.

Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah yang dikelola Bapak-bapak, karena merasa berat dalam mengelola, maka salah satu upaya yang ditempuh agar Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah tersebut tetap berjalan, yaitu dengan melibatkan ibu-ibu ’Aisyiyah Cabang Ponorogo  untuk ikut mengurus dan mengelolanya.

Yang bertanggung jawab terhadap Rumah bersalin PKO Muhammadiyah dari unsur Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah adalah : Ny. Mardioetomo, Ny. Hj. Syarkowi, Ny. Mardjoe Marto Hardjono, sedangkan dari PKO Muhammadiyah Cabang Ponorogo adalah : Muhammad Markum (Subur), Sapari, dan R. Moeljono Djojomartono, Moeh Askandar,  Buyamin, dan S.Somohardjo. Bahkan dari sekian Pengurus PKO Muhammadiyah tersebut 4 diantaranya diabadikan menjadi nama putra angkat Bpk. Somohardjo (Cokromenggalan) dengan nama Koendarijono, singkatan dari : Markoen, Moeh. Askandar, Sapari dan Moeljono. Sedangkan penanggung jawab Medis pada saat itu adalah : Bidan Harkun (DKT), Bidan Umi ( Putri P. Dikin), dan Ibu Supiran.

Penanggung jawab Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah mulai tahun 1963 adalah dr. Suroto dibantu oleh Bidan Koirul Bariah (Putri Bp. Idris Joyo Sudarmo) dan Bidan Wuryani. Dengan bergantinya tampuk kepemimpinan tersebut dapat membawa perubahan yang berarti bagi perkembangan Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah meskipun belum mampu keluar dari kerugian. Namun karena kesibukan dr. Suroto,  ia hanya dapat memimpin selama dua bulan.

Pada tahun 1966 keadaan Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah  belum berubah, masih terus mengalami kerugian. Untuk menutup kerugian tersebut diadakan gerakan jimpitan beras. Semua rumah anggota ‘Aisyiyah masing-masing dititipi kaleng untuk diisi jimpitan beras yang hasilnya lumayan. Yang berarti semua turut andil dalam menutup kekurangan Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah.

Pada tahun 1967 ada perkembangan yang sangat menggembirakan, Pengurus tidak lagi harus mencari pinjaman untuk menanggung operasional Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah,  karena pendapatan tiap bulan telah ada sisa lebih.

Dengan adanya perubahan struktur organisasi ‘Aisyiyah dari pusat sampai bawah (masa transisi/peralihan), maka Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah jalan Diponegoro penanggung jawabnya diserahkan kepada Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Urusan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang selanjutnya dirubah menjadi Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) yang diketuai oleh Ny. Hj. Machfoed Thohir dan tetap dibantu oleh Muhammad Subur hingga wafatnya. Juga oleh Ny. Mardioetomo hingga akhir hayatnya.

Pada bulan Mei tahun 1979 ada sisa kas Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) setelah memperbarui kontrakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. Atas permintaan Ny. Mardioetomo agar gedung Rumah Bersalin dibangun diatas tanah yang sudah dimiliki oleh Muhammadiyah Cabang Ponorogo Kota yang berada di jalan Diponegoro (RSU ‘Aisyiyah Diponegoro), meskipun dari papan dan bambu.. Rapat pengurus menyetujui dan menugasi Ny. Machfoed Thohir dan Ny. Mardioetomo untuk membentuk Panitia pelaksana.

Panitia pembangunan yang diketuai Ny. Machfoed Thohir dan ketua pelaksana H. Damanhuri, dibantu Soeratno, Soewandi dan M. Slamet Subur mulai bulan Juni 1979 melaksanakan pembangunan dengan modal Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) dengan jangka waktu 5 (lima) tahun untuk menyelesaikan pembangunan Rumah Bersalin tersebut.

Bangunan yang semula direncanakan setengah bambu atau papan (semi permanen) dapat terwujud berupa bangunan bata merah (permanen) secara keseluruhan. Semula direncanakan dalam waktu 5 (lima) tahun, tetapi baru 2 (dua) tahun bangunan sudah diselesaikan dan dapat ditempati tepatnya pada bulan Oktober 1981. Biaya pembangunan tersebut diperoleh dari keluarga besar Muhammadiyah, ‘Aisyiyah dan anak didik Muhammadiyah yang telah memiliki penghidupan cukup, baik yang berdomisili di dalam Ponorogo maupun di luar Ponorogo. Disamping itu besar pula bantuan keuangan dari usaha yang dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan.

Setelah Rumah Bersalin ‘Aisyiyah menempati bangunan yang baru tersebut setiap bulan tidak menanggung kerugian, kalau ada sisa lebih dimanfaatkan untuk membeli peralatan medis yang diperlukan dokter konsultan ahli kandungan dr. Roby Budi Arso dan dokter konsultan ahlianak dr. Sofyan Kadarisman. Disamping itu juga untuk melengkapi peralatan yang lain.

Atas saran dokter ahli anak, pada tahun 1983 mulai dibangun tambahan ruang untuk memberikan pelayanan bagi bayi atau anak yang memerlukan opname. Pelaksanaan pembangunan diserahkan kepada H. Damanhuri. Sumber dana diperoleh dari pendapatan Rumah Bersalin ‘Aisyiyah, Ibu-ibu pengurus, Ny. Hj. Damanhuri dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota.

Setelah diadakan pemeriksaan dan penilaian oleh dr. Parimussa dari IKE Surabaya dikembangkan menjadi Balai Kesehatan. Atas saran tersebut terus dirintis sarana untuk melengkapi persyaratan pendirian Balai Kesehatan. Untuk mengurus Balai Kesehatan tersebut diserahkan kepada Ny. Lies Choirul Fikri dibantu oleh Ny. Hj. Damanhuri, dan Soewandi. Sedangkan pengelolaan sehari-hari ditugaskan kepada Ny. Hj. Mardjoe Marto Harjono dan Ny. Hj. Machfoed Thohir.

Pada bulan Juni 1982 dimulai pembangunan tahap  II dan berakhir sampai dengan bulan Agustus 1982. Sedangkan pada bulan Pebruari 1983 dimulai pembangunan tahap III sampai dengan bulan September 1988.

II. Rumah Bersalin ‘Aisyiyah, Balai Pengobatan ‘Aisyiyah, Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak ‘Aisyiyah (Tahun 1992 – 1997).

Pada tanggal 24 Oktober 1992, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota telah mendapatkan ijin tetap penyelenggaraan Rumah Bersalin ‘Aisyiyah jalan Diponegoro No.50 Ponorogo dari Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi Jawa Timur Nomor : 325 A/KANWIL/SK/YKM.4/X/1992. Yang waktu itu sebagai penanggung jawab penyelenggaraan pelayanan kesehatan Rumah Bersalin adalah dr. Wahyunie Sugiharti.

Juga pada bulan yang sama, tanggal 30 Oktober 1992 Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota telah memperoleh ijin  tetap  penyelenggaraan Balai Pengobatan. Dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi Jawa Timur Nomor : 328/KANWIL/SK/YKM.4/X/1992

Selang waktu satu bulan setelah mendapatkan Surat Keputusan mengenai peningkatan status Rumah Bersalin dan Balai Pengobatan ‘Aisyiyah, tepatnya pada tanggal 6 Nopember 1992 Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota memperoleh ijin tetap penyelenggaraan Balai Kesehatan Ibu dan Anak. Dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan propinsi Jawa Timur Nomor : 345/KANWIL/SK/YKM.4/XI/1992. Pada waktu itu sebagai pengurus RB. BP. BKIA adalah Ny. Hj. Machfoed Thohir, dan sebagai penanggung jawab penyelenggaraan kesehatan RB. BP. BKIA ‘Aisyiyah adalah dr. Wahyunie Sugiharti. Karena batasan usia dan kemampuan dari Ny. Hj. Machfud Thohir, maka kepengurusan diserahkan kepada Ny. Hj. Damanhuri

2.1.       Kepengurusan Badan Penyelenggara

(1)     Kepengurusan Periode Tahun 1992 – 1995

Ketua                      :      Ny. Hj. Soeratno

Ketua I                      :      Ny. Hj. Damanhuri

Ketua II                     :      Ny. Hj. Soemali Idris

Sekretaris                 :      Ny. Soewandi

Sekretaris I               :      Ny. Ririn

Bendahara                :      Ny. Noor Mansyur

Bendahara I              :      Ny. M. Iskak

Anggota                   :      1. Ny. Hj. Djamil Yusuf

                                        2. Ny. Mujari

                                        3. Ny. Hj. Mardjoe Martohardjono

Dengan keberadaan pengurus yang dipegang ibu-ibu ‘Aisyiyah Cabang Ponorogo Kota, salah satu penambahan yang paling penting adalah pembelian alat Laboratorium, yang berguna bagi penelitian dan sarana untuk mengembangkan RB. BP. BKIA ‘Aisyiyah menuju ke arah profesional.

Disamping pembelian peralatan Laboratorium, pada kepengurusan periode ini telah dibangun kamar VIP yang berjumlah 3(tiga) kamar VIP Utama dan peralatannya sesuai dengan standar kesehatan Rumah Sakit.

(2)       Kepengurusan Periode Tahun 1995 – 2000

Kalau sebelumnya kepengurusan tidak mempunyai periode waktu, maka mulai tahun 1995, kepengurusan hanya dibatasi 5 (lima) tahun untuk setiap periode. Kepengurusan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro waktu itu dibawah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Ponorogo Kota.

Pada awal periode kepengurusan yang baru tersebut Badan Penyelenggara Rumah Bersalin ’Aisyiyah Diponegoro langsung mengatasi masalah –masalah yang membutuhkan penanganan yang cepat dan akurat. Adapun susunan kepengurusannya :

Ketua                                 :      Ny. Hj. Damanhuri

Wakil Ketua                      :      H. Hadi Taryono

Wakil Ketua                      :      Ny. Hj. Djamil Yusuf

Sekretaris                           :      Ny. Noor  Mansyur

Wakil Sekretaris                :      Imam Kurdi

Bendahara                         :      Ny. Hj. M. Iskak

Wakil Bendahara               :      Setyo Winoto

Tahun 1995 penaggung jawab penyelenggaraan pelayanan kesehatan  RB. BP. BKIA ‘Aisyiyah masih tetap dipegang oleh dr. Wahyunie Sugiharti. Selama kepemimpinan beliau banyak perubahan yang terjadi untuk diarahkan pada kemajuan. Salah satu diantaranya adalah terobosan bagi tenaga kerja yang berprestasi disekolahkan di Yogyakarta pada Program Pendidikan Bidan sebanyak 4 (empat) orang.

Setelah mereka lulus dari sekolah., mereka langsung diterjunkan sebagai tenaga tetap RB. BP. BKIA ‘Aisyiyah Ponorogo. Dengan jumlah tenaga bidan yang lulus dari P2B Yogyakarta RB. BP. BKIA ‘Aisyiyah  Diponegoro lebih memantapkan visi kedepan untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.

Hingga awal tahun 1997 dr.Wahyunie Sugiharti masih memegang kepemimpinan. Karena kesibukan dan banyaknya aktivitas yang sangat padat, maka pada pertengahan tahun 1997 dr. Wahyunie Sugiharti mengundurkan diri sebagai Penanggung jawab penyelegaraan pelayanan kesehatan RB. BP. BKIA ‘Aisyiyah Diponegoro.

Tampuk kepemimpinan yang menggantikan dr. Wahyunie Sugiharti adalah dr. Herman Kusbiantoro sebagai direktur RB. BP. BKIA ‘Aisyiyah Diponegoro. Beliau tampil memberikan warna yang lain bagi perkembangan RB. BP. BKIA ‘Aisyiyah Diponegoro, yang ditandai dengan ditugaskannya para Dokter tetap penuh waktu antara lain dr. Sudarmanto, dr. Rina Kurniawati.

III.    ”Rumah Sakit ” ’Aisyiyah (Tahun 1997 –  2000).

Langkah awal beliau adalah pembenahan nama RB. BP. BKIA ‘Aisyiyah menjadi “Rumah Sakit ” ‘Aisyiyah. Hal ini beliau lakukan sebelum ia mendapat Surat Keputusan pengangkatan sebagai Direktur secara resmi dari Badan Penyelenggara Rumah Sakit ‘Aisyiyah.

Pada tanggal 31 Oktober 1997, Badan Penyelenggara Rumah Sakit ‘Aisyiyah mendapat rekomendasi dari Depkes Kabupaten Ponorogo Nomor : 698/Kandep/YKM/X/1997 tentang peningkatan RB. BP. BKIA menjadi Rumah Sakit.

Selang waktu satu tahun sejak beliau diangkat menjadi Direktur, beliau mengundurkan diri sebagai Direktur terhitung mulai tanggal 18 Agustus 1998, karena akan melanjutkan sekolah Dokter Spesialis. Karena tuntutan tersebut akhirnya tampuk kepemimpinan diserahkan kepada dr. Yudo Yuwono.

IV.    Rumah Sakit Umum ‘Aisyiyah Diponegoro (Tahun 2000 – 2002).

Pada tanggal 1 September 1998 dilantik dr Yudo Yuwono sebagai Direktur baru Rumah Sakit ‘Aisyiyah Jl. Diponegoro No. 50 Ponorogo. Hal pertama yang dilakukan adalah memproses perubahan status dari Rumah Sakit ‘Aisyiyah menjadi Rumah Sakit Umum ‘Aisyiyah Diponegoro untuk menuju profesional.

Pembenahan software dan hardware dibidang organisasi, sistem kerja dan job discription, adanya protap tiap Kepala Seksi, jenjang struktural yang jelas sehingga meningkatkan etos kerja. Salah satu langkah kebijaksanaan yang beliau ambil adalah perekrutan tenaga paramedis, melengkapi peralatan medis dan non medis untuk jangka menengah dengan memfungsikan ruang perawatan bawah, perawatan atas, poliklinik, obgyn, kamar operasi.

4.1.       Pembentukan Pembinaan Kerohanian (Binroh)

Dalam rangka meningkatkan fungsi Rumah Sakit sebagai media dakwah maka telah dibentuk Binroh yang bertugas membina kerohanian karyawan, pasien dan keluarga pasien.. Dalam menunjang tugas-tugas tersebut, Binroh yang membawahi Ta’mir Musholla melengkapi kegiatannya dengan mendirikan perpustakaan, pengajian rutin setiap hari Jum’at bagi karyawan, PHBI, Halal bi-halal , dan penyembelihan hewan qurban.

Untuk lebih mengefektifkan pesan da’wah kepada pasien dan keluarganya, mulai bulan Januari 1999 telah dilakukan pemutaran lagu-lagu Qosidah, Tartil Al-Qur’an serta Dakwah Pengajian sebelum sholat Maghrib dan sesudah sholat Subuh yang disalurkan ke segenap penjuru Rumah sakit.

4.2.       Instalasi Farmasi.

Dalam rangka peningkatan fungsi Farmasi telah diangkat  tenaga Apoteker, sehingga di instalasi farmasi terdapat 1(satu) Apoteker, 1(satu) Asisten Apoteker, dan 1(satu) tenaga Administrasi Apoteker. Instalasi Farmasi membuka pelayanan 16 (enam belas) jam, mulai pukul. 07.00 s/d 21.00 WIB,  karena instalasi farmasi merupakan penyangga utama dalam pelaksanaan operasional Rumah Sakit. Namun demikian pelayanan instalasi farmasi tetap pada satu sentral.

4.3.    Kekaryawanan.

Sesuai dengan catatan bagian kepegawaian hingga akhir Maret 1999, maka dapat disampaikan bahwa jumlah karyawan yang bekerja di Rumah sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo sebanyak 52 (lima puluh dua) orang karyawan tetap, 11(sebelas) orang karyawan percobaan, 1(satu) orang karyawan honorer, Dokter jaga UGD 6 (enam) orang, Dokter tenaga konsultan 7 (tujuh) orang, konsultan gizi dan fisioterapi masing-masing 1(satu) orang.

4.4.    Instalasi Bedah Steril dan Instalasi Radiologi.

Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro yang berada di pusat kota Ponorogo sejak didirikan pada tahun 1962 telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan dan perkembangan tersebut dikarenakan semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dan pasien. Untuk menampung meningkatnya kebutuhan kualitas pelayanan kesehatan ditengah kota ini, maka Rumah Sakit ‘Aisyiyah Dipenegoro telah berupaya meningkatkan kualitas pelayanan medis, peralatan medis, dan fasilitas lainnya.

Awal Nopember tahun 1998 telah membangun wajah depan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro yang semula pintu depan Rumah Sakit ada pagarnya dihilangkan. Halaman dirubah menjadi paving sehingga wajah depan menampakkan trend Rumah Sakit.

Untuk memenuhi tuntutan pelayanan di bidang kesehatan, awal Januari 1999 Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro membangun sebuah Instalasi Bedah Steril. Alasan pembangunan tersebut selain untuk kelengkapan ijin penyelenggaraan Rumah Sakit adalah karena tuntutan zaman yang sudah mengarah pada keprofesionalan pelayanan di bidang medis.

Guna memenuhi kebutuhan standar air bersih di rumah sakit dibangun tandon air yang terletah di depan Rumah Sakit. Pembuatan tandon ini dibangun awal Januari 1999, salah satu alasan dibangunya tandon air ini karena adanya program jangka pendek Rumah Sakit untuk menyediakan air bersih yang sesuai dengan standar kualitas air bersih.

Untuk memenuhi tuntutan kualitas pelayanan kesehatan Rumah Sakit, pada tahun 1999 dibangun Instalasi Radiologi, yang akan berguna sekali untuk mengefektifkan pelayanan kesehatan antara Instalasi Bedah Steril dan Instalasi Radiologi.

Dalam rangka menunjang peningkatan kwalitas pelayanan kesehatan, Badan Penyelenggara Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro menyetujui usulan permohonan Direktur Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro a.n dr Yudho Yuwono melanjutkan sekolah di Universitas Gajah Mada (UGM)  untuk menempuh S2 bidang Management Rumah Sakit.

Dari peningkatan sarana dan prasarana Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo yang dilaksanakan secara bertahap, diarahkan untuk melengkapi syarat-syarat  permohonan ijin sementara Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo. Alhamdulillah permohonan ijin sementara Rumah Sakit ‘Aisyiyah yang diajukan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota telah keluar sejak tanggal 7 Maret 2000 s/d 7 Maret 2002 dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. YM.02.04.3.5.786 tanggal 7 Maret 2002 (Kep. Men.Kes. RI Dirjen Yanmed)

Perkembangan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo secara umum telah dapat dilihat dengan bertambahnya sarana dan prasarana serta adanya adanya peningkatan  dan pertambahan hasil usaha.

Dibalik keberhasilan tersebut terdapat suatu hal yang patut menjadi keprihatinan dalam perjalanan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo. Keprihatinan tersebut terdengar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota yang pada akhirnya dikeluarkanlah Surat Keputusan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota No. 41/SK.PC/IA/1.b/2000 tanggal 14 September 2000 tentang penonaktifan Direktur dan Surat Keputusan No. 40/SK.PC/IA/1.b/2000 tanggal 14 September 2000 tentang penonaktifan Badan Penyelenggara Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo.

Dengan adanya kekosongan jabatan Direktur dan Badan Penyelenggara Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro, maka komando operasional sementara diserahkan/ ditugaskan kepada para dokter di Rumah Sakit, adapun kepengurusan di pegang langsung oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota.

Dari kejadian-kejadian tersebut di atas Pimpinan Cabang Muhamadiyah Ponorogo Kota mengadakan konsultasi ke Majelis Pembina Kesehatan (MPK) Jawa Timur yang sekaligus memohon tenaga Direktur untuk ditugaskan sebagai direktur Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo. Hasil konsultasi tersebut telah diterbitkan Surat Keputusan No. IV.B/2.b/SPPWMMPK.0901/2000, tanggal 28 September 2000 tentang Pjs. Direktur Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo adalah dr. Solachudin Hasjim, atas permohonan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota No. 42/IV.B/4.b/2000.

Dr. Solachudin Hasjim selaku Pjs. Direktur Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo telah mampu mengadakan penataan-penataan, antara lain pembaruan struktur organisasi dan tata kerja Rumah Sakit. Namun pelaksanaan tugas Pjs. Direktur Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro dr. Solachudin Hasjim berjalan tidak lama, mengingat dr. Salachudin Hasjim masih akan melanjutkan sekolah.

Selanjutnya Pimpinan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro dipegang oleh dr Rina Kurniawati berdasar Surat Keputusan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Majelis Pembina Kesehatan Jawa Timur No. 05/SK.PW/IV.B/2.b/I/2001 tanggal 10 Januari 2001.

Sedangkan tugas kepengurusan sementara oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota berakhir dengan telah terbitnya Surat Keputusan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota No. 24/SK.PC/IA/1.b/2001, tanggal 01 Juli 2001 tentang penunjukan Badan Penyelenggara Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo dengan susunan sebagai berikut :

Ketua                     :    Imam Kurdi

Anggota                 :    H. Slamet Subur

                            :    H. Damanhuri

                            :    Drs. Imam Bashori

                            :    Ny. Hj. Damanhuri

                            :    Ny. Hj. Iskak

                            :    Ny. Nur Mansyur

                            :    Ny. Hj.  Mubari

Pimpinan cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota / Badan Penyelenggara Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro memperhatikan hampir habisnya masa perijinan sementara Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo berupaya mengadakan permohonan ijin tetap Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo.

Berbagai persyaratan untuk melengkapi permohonan ijin tetap Rumah Sakit telah diupayakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota yang diantaranya telah keluar :

  1. Pemberian ijin Undang-undang gangguan (HO) dari Bupati Ponorogo No. 438 tahun 2001.
  2. Persetujuan Penggunaan Tanah untuk Peningkatan Pembangunan Rumah Sakit Umum ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo Dari Badan Pertanahan Nasional Ponorogo  kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota No. 460.352.3-20 tanggal 24 Januari 2002.
  3. Pemberian Rekomendasi ijin tetap Rumah Sakit dari Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur No. 4421/0086/III.4/2001 tanggal 31 Desember 2001 kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota untuk menyelenggarakan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo.

Dari usaha yang telah dilakukan oleh Pendiri/ Pemilik yang tidak kenal lelah dengan mencurahkan segala kemampuan baik moril maupun materiil, mulai dari Rumah Bersalin (1962) sampai menjadi Rumah Sakit (sekarang), pada akhirnya atas berkah dan rahmat Alloh SWT Pendiri/ Pemilik rumah sakit mendapatkan apa yang dicita-citakan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: YM.02.04.2.2.2052 tertanggal 23 Mei 2002, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ponorogo Kota diberikan “IZIN TETAP” untuk menyelenggarakan Rumah Sakit Umum dengan nama “RUMAH SAKIT ‘AISYIYAH DIPONEEGORO”.

  1. V.           Penutup.

 Demikian sekilas Perjalanan Rumah Sakit Umum ‘Aisyiyah Diponegoro Ponorogo dari awal berdirinya tanggal 16 Januari tahun 1962 yang pada masa itu masih bernama Rumah Bersalin PKO Muhammadiyah hingga menjadi Rumah Sakit Umum ‘Aisyiyah Diponegoro saat ini (tahun 2002).

Iklan